:: Ketika HATI Berlomba dengan JARI, Hadirkan OTAK sebagai JURI ::
“Menulislah dengan hati”
Sounds familiar ya?
Suatu ketika, beberapa saat sebelum Obama terpilih sebagai presiden Amerika Serikat, sebuah media cetak pernah memuat suatu artikel yang intinya mengungkapkan hasil penelitian mengenai seberapa besar kemudahan akses teknologi email melalui ‘Blackberry’ akan membuat seseorang seperti Obama dikhawatirkan akan mengambil keputusan-keputusan penting dengan pertimbangan yang kurang matang karena pada saat itu Obama mengatakan akan tetap mengakses email-emailnya melalui Blackberry sehingga dia akan cepat ter-update akan situasi yang terjadi pada masyarakat Amerika Serikat maupun dunia. Saat itu, selesai membaca artikel, saya hanya berhenti sampai di situ saja, karena toh Obama bukan presiden Indonesia. Lagipula, seorang Obama tentunya tidak hanya akan menulis dengan hati ketika menuliskan sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaannya. Tetapi pesan bahwa kemudahan teknologi kemungkinan akan membuat seseorang kurang hati-hati dalam menanggapi sesuatu, tetap terpatri dalam ingatan saya.
Beberapa bulan lalu, kemudahan teknologi itu akhirnya sampai juga di Indonesia. Dan kemudahan untuk mendapatkan Blackberry itu membuat hampir semua kalangan menengah ke atas, mampu membelinya, entah karena barang yang dibeli adalah barang dari black market, kredit, maupun karena pergantian model yang lebih baru sehingga model lama yang feature dan kemampuannya tidak jauh dengan model terbaru juga turun harga.
Sebelum Blackberry mudah didapat, fasilitas ini biasanya pada perusahaan-perusahaan hanya diberikan pada pejabat dengan posisi tertentu yang mengharuskannya bisa mengakses email dimanapun mereka berada dan mobilitas kerjanya sangat tinggi. Keadaan itu berubah sejak terjadinya perubahan seperti yang saya sebut di atas tadi.
Tentu saja hal ini sangat menggembirakan, karena dengan demikian siapapun bisa menikmati fasilitas ini dengan mudah. Akan tetapi di sisi lain, sepertinya memang untuk hal-hal yang berhubungan dengan komunikasi tertulis, seperti e-mail perlu kedewasaan dan tanggung jawab dalam memanfaatkan fasilitas ini.
Sebuah e-mail (electronic mail), fungsinya sama dengan surat biasa. Kelebihannya adalah e-mail bisa terkirim dalam waktu cepat dan sampai kepada si penerima pesan lebih cepat daripada sebuah surat biasa. Penulisan e-mail pun terkesan tidak seformal surat biasa. Akan tetapi, e-mail sekarang ini sudah bisa menjadi barang bukti di pengadilan, oleh karenanya sudah sepatutnyalah ketika kita menulis e-mail, tetap berpegang pada prinsip-prinsip kesopanan, etika berkomunikasi, dan kesusilaan.
Sayangnya, kembali mengingat apa yang dikhawatirkan oleh media yang menulis tentang Obama saat itu, sepertinya sekarang ini semua yang diungkapkan sudah menjadi kenyataan. Bukan terhadap Obama, tapi secara umum. Untuk Obama, lagi-lagi saya tidak tahu, karena bagi saya dia hanyalah presiden Amerika Serikat, meski saya mengaguminya, tapi tetap saja saya tidak merasa harus tahu perkembangan beliau.
Tanpa bermaksud mengecilkan arti para pemilik Blackberry baru, rasanya kemudahan itu membuat sebagian orang menjadi tidak lagi bisa membedakan antara menulis SMS dengan menulis e-mail.
Yang pertama dan paling mudah dikenali adalah dari cara menulis e-mail yang banyak mempergunakan singkatan. Seringkali bahkan kita harus berpikir keras untuk menebak singkatan ini maksudnya apa ya?
Yang kedua dari cara penyampaian sebuah pesan. Banyak pengguna fasilitas ini, yang tadinya kalau menulis e-mail harus duduk berkonsentrasi dalam menyusun kalimat-kalimat yang baik, sopan dan bagus, sekarang bisa mengetik e-mailnya dimanapun, bahkan sambil berjalan, seperti sedang mengetik SMS.
Jika e-mail tersebut hanyalah e-mail yang tidak terlalu penting, tidak akan terlalu beresiko. Akan tetapi jika e-mail tersebut dikirimkan kepada seseorang yang berhubungan dengan pekerjaan ataupun profesionalisme, maka bukan tidak mungkin akan terjadi misscommunication hanya karena penyampaiannya yang terburu-buru, tidak jelas, dan bahasa yang dipergunakan kurang berpegang pada etika berkomunikasi.
Ada 10 hal-hal mendasar dari etika berkomunikasi :
- Berpegang pada prinsip mencari kalimat terbaik dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain;
- Mendengarkan ketika yang lain menyampaikan pendapat;
- Tidak judgemental;
- Bicara berdasarkan pengalaman dan perspektif pribadi, mengungkapkan pikiran, kebutuhan, dan perasaan;
- Berusaha mengerti orang lain dan tidak selalu merasa benar sendiri;
- Hindari berbicara mengatasnamakan orang lain, umpamanya dengan mempergunakan pendapat orang lain dalam universalisasi pendapat pribadi, keyakinan, nilai-nilai dan kesimpulan yang diambil;
- Mengatur batasan personal dengan hanya membagi informasi yang nyaman untuk dibagi;
- Menghargai batasan personal orang lain;
- Hindari memotong pembicaraan;
- Pastikan bahwa semua pihak punya kesempatan untuk menyampaikan pendapat.
10 dasar etika berkomunikasi ini memang adalah hal-hal yang ideal. Yang 100% ideal, memang butuh disiplin dan usaha yang keras untuk dapat mencapainya. Tapi setidaknya, jika tiap-tiap dari kita berusaha saja untuk menuju ke arah ideal, setidaknya akan mengurangi ketidak-nyamanan dalam berkomunikasi.
Pada kebanyakan orang yang belum menyadari bahwa sebuah e-mail seringkali berfungsi hampir sama seperti surat, biasanya tidak semaksimal mungkin mempergunakan kesempatan mengirimkan e-mail ini. Seperti mengetik sms, bahasa yang dipergunakan tidak formal dan asal bunyi. Dalam hal ini sepertinya meski telah terjadi pergeseran fungsi e-mail dari tidak dianggap formal menjadi semi formal, kemudian karena para penggunanya tidak terlalu bertanggung jawab dalam mempergunakannya, maka fungsi tadi terpaksa bergeser lagi karena kelalaian penggunanya sendiri.
Saya biasanya mendiamkan dulu pesan-pesan yang butuh pertimbangan dalam menjawabnya. Kebanyakan pengguna Blackberry yang sudah dewasa pasti akan melakukan hal yang sama dengan saya. Tapi apa jadinya ketika kita yang selalu serius menanggapi email penting kemudian menemukan kenyataan bahwa pihak lain menjadi tidak perlu berpikir masak sebelum mengetikkan pesannya untuk menjawab pesan kita? Ada ketidak-seimbangan di sini. Ada juga kesan meremehkan dan bahkan yang lebih parah, seperti tidak tahu etika. Ini bisa mengakibatkan ‘miss-communication’ dan merusak hubungan profesional ataupun pertemanan yang terjadi. Karena pada dasarnya, serius atau tidaknya isi sebuah e-mail, tetap saja harus berpegang pada etika, moral, dan kesopanan. Akan lebih baik jika setiap orang menyadari bahwa ketika HATI beradu cepat dengan JARI, maka saat itulah kehadiran OTAK sangat diperlukan untuk menentukan pemenangnya.
Jangan sampai image diri menjadi berubah hanya karena jari-jari kita lebih cepat menuangkan isi hati tanpa memikirkan kembali substansi pesan yang ingin kita sampaikan. Jangan sampai orang menilai kita tidak punya etika hanya karena jari-jari kita terlalu cepat menterjemahkan isi hati daripada pikiran kita.
Disclaimer :
Tulisan ini hanya dibuat untuk mengajak para pembaca agar lebih berhati-hati dan selektif dalam menulis pesan ataupun sebuah e-mail, dan utamanya menjaga komunikasi agar tetap berjalan dalam koridor kesopanan tanpa ada maksud mendiskreditkan produk tertentu.




wah postingnnya keren… nice info