:: My Personal Corner of Sarasehan Blogger 2010 ::

Sebagai salah satu pengisi acara dalam Sarasehan Amprokan Blogger 2010, dan sebagai Blogger, tentu saja saya juga ingin menulis kesan-kesan saya terhadap acara yang saya ikuti tadi malam. Meski Pak Walikota menjanjikan ada hadiah bagi pembuat reportase terbaik, tapi catatan ini bukan sebagai salah satu peserta lomba tentu saja.

Ketika saya mendapat undangan dari Mbak Ajeng untuk mengisi acara talk show, saya sempat menanyakan beberapa kali mengenai fiksasi dari acara dan topik yang akan dibicarakan dalam talk show. Bukan apa-apa, saya terbiasa profesional dalam segala hal, dan jika saya harus menghadiri suatu talk show, maka yang akan hadir bukan hanya saya tetapi ‘team Rose Heart Writers’. Team Rose Heart Writers (RHW)terdiri dari anggota komunitas RHW yang membantu saya dalam menangani souvenir, gift, fotografer, dan publikasi. Oleh karenanya ketika saya melihat perubahan acara dimana saya dan Jane masuk dalam sesi 1 jam yang digabung dengan Enda, saya sempat berpikir akan terlalu banyak persiapan yang harus saya lakukan dan jika slot waktu yang diberikan hanya beberapa menit, itu tidak akan seimbang dengan persiapan saya.

Mbak Ajeng kemudian merapatkan dengan panitia hingga akhirnya slot saya dan Jane dibuat terpisah untuk 1 jam. Saat itulah saya menyetujui untuk hadir. Komitmen dibuat. Saya akan hadir bersama Jane. Kehadiran Jane sebagai salah satu artis yang juga blogger memang salah satu sumbangan saya untuk acara ini sesuai dengan permintaan Mbak Ajeng. Aktifitas saya yang padat dan keberadaan Jane yang kebetulan juga adalah salah satu anggota RHW dengan  schedule ketat, menjadikan kepastian atas slot waktu yang pasti sangatlah penting. Oleh karenanya saya harus memastikan itu sebelum membuat komitmen apapun.

Pukul 19.15 saya sudah tiba di lokasi. Saya bahkan sempat sedikit tegang karena perjalanan ke Bekasi dari tempat tinggal saya sangat jauh. Belum lagi hujan yang begitu deras dengan halilintar yang mengiringinya. Bagi pendatang yang di luar Bekasi, memang perlu perjuangan berat untuk bisa tiba di lokasi. Tiba di sana acara belum dimulai, dan memang semua yang sudah direncanakan dengan rapi pun tak selalu berjalan mulus jika masih ada kendala yang berhubungan dengan kondisi di luar kendali manusia, seperti hujan dan kemacetan yang sepertinya sudah menjadi pasangan jiwa.

Acara baru benar-benar dimulai sekitar lewat pukul 20.00 WIB setelah walikota datang. Protokoler Pemda seketika juga merubah susunan acara. Saya mendengar panitia dan protokoler Pemda berdiskusi atau lebih tepatnya pihak Pemda menginstruksikan agar setiap pembicara hanya diberi waktu 10 menit dengan alasan keesokan harinya masih ada acara dan mereka harus selesai secepatnya.

Saya juga mendengar pihak panitia berusaha menjelaskan bahwa ada acara talk show yang tidak dapat dipotong menjadi hanya 10 menit, tetapi pihak Pemda bersikukuh bahwa jatah setiap pembicara hanya 10 menit!

Sebenarnya jika saja saya tak menghargai usaha rekan-rekan sesama blogger yang menjadi panitia, saat itu juga saya bisa tiba-tiba berbalik badan, membatalkan acara saya dan meninggalkan tempat. Tapi ini bukan kesalahan panitia, di bawah instruksi Pemda, mereka harus mengikuti alur birokrasi yang ada. Sejujurnya, saya merasa, jika kita berurusan dengan pihak pemerintah, seolah-olah ada ‘perintah’ yang harus dituruti tanpa mempedulikan aspek-aspek lain di luar kepentingan pihak mereka sendiri.

Pihak panitia sampai beberapa kali meminta maaf pada saya atas perubahan itu, dan karena saat itu saya juga masih menunggu Jane yang juga terhalang kendala hujan dan pesawat delay, maka saya tetap bersabar menunggu giliran saya untuk bicara. Tapi saya tetap berpikir waktu 10 menit adalah waktu yang sangat ‘basa-basi’. Pihak panitia telah berusaha meyakinkan bahwa puncak acara adalah talk show saya karena di moment itulah para blogger diharapkan bisa saling curhat dan berdiskusi mengenai dunia blogging dan penulisan. I mean ‘what can we say in 10 minutes’? Itu bukan talk show! Setidaknya 1 jam adalah waktu yang paling minim untuk sebuah talk show dan ini bukan pertama kalinya saya mendapat undangan ataupun mengadakan talk show! :) )

Tetapi rupanya sajian musik yang ‘ala kadarnya’ lebih menarik untuk ditampilkan. Penampilan band-band berprestasi dari Bekasi menurut saya adalah hal yang baik dalam mendukung kreatifitas. Tetapi ada hiburan juga yang artisnya sudah ada di sana, hingga acara talk show harus digeser lebih malam lagi dan itu justru membuat usaha Jane untuk ‘ngotot’ datang meski sudah saya ‘usir’ untuk pulang saja ketika masih di perjalanan — tak sia-sia. Tetapi saya jadi berpikir lagi, kenapa saya mesti datang jam 7? Harusnya saya datang jam 10 saja! :)

Sesi lagu yang diisi oleh Jelly Tobing cukup menghibur. Tetapi saya tetap bisa merasakan ada suatu hambatan emosional yang dialami oleh para blogger. Sepertinya mereka jenuh dengan lagu-lagu yang sudah dipersembahkan sejak awal acara dan ketika ada kesempatan untuk joget pun mereka harus tetap ‘jaim’ karena biar bagaimanapun di depan walikota gitu loh! Para Blogger seperti sedang meng-entertain jajaran Pemda dengan disuruh menonton walikota dan sekda bernyanyi! *lol — Kenapa bukan BLOGGER saja yang diberi kesempatan bernyanyi kalau acaranya Sarasehan Blogger?

Iyet Bustami tampil setelah itu. Meski bersuara bagus dengan salah satu lagunya yang terkenal, tapi lagunya tidak terlalu membawa keceriaan. Beberapa bergoyang dari tempatnya menonton tapi tak begitu tertarik untuk maju ke depan panggung dan berjoget. Sungguh bagi saya itu suasana hiburan yang sangat kaku! Kegembiraan itu ekspresi. Keceriaan dan suka cita itu ekspresi. Jika ekspresi itu tak muncul, apakah itu bisa dinamakan hiburan? Entahlah, saya lebih memilih untuk berteman dengan rokok dan blackberry saya di luar area sambil menunggu Jane yang sempat ‘tersasar’ dan sudah hampir sampai.

Saya baru bisa merasakan suasana ‘hidup’ pada saat talk show. Ketika acara talk show dimulai, dengan gaya kocaknya, Mas Eko Sutrisno memang piawai menjadi moderator. Meski jam sudah menunjukkan pukul 22.30, para blogger yang masih setia di lokasi, begitu antusias mengikuti acara talk show kami. Saya, sebagai blogger, tentu sangat memahami perasaan kami, para blogger. Kami adalah jiwa yang bebas, yang seringkali tak tahan dengan alur birokrasi, bahkan lebih sering meng-kritisi segala hal melalui tulisan-tulisan blog kami. Ketika acara talk show berlangsung, rombongan tamu VIP meninggalkan lokasi dan finally we – blogger – could have our real moment. Moment untuk menjadi diri sendiri dan kembali bebas berekspresi dalam bertukar cerita, berdiskusi, sambil melontarkan komentar-komentar konyol yang makin memeriahkan talk show. Jika sebelumnya mereka hanya diminta menonton penampilan di panggung dan asyik berkutat dengan laptop masing-masing, kali ini mereka merasa terlibat langsung dan kembali menjelma menjadi diri mereka sendiri.

Talk show selesai hampir tengah malam. Mas Eko — sang moderator — menamainya ‘Midnight Talk Show’. Walikota menyempatkan diri untuk berbagi sepatah dua patah kata dengan para blogger di akhir talk show sambil menagih janji para blogger — membuat reportase acara ulang tahun Bekasi melalui acara Amprokan Blogger. Bahkan walikota menjanjikan hadiah bagi yang menulis reportase. Sayangnya, saat beliau bicara di talk show, belum ada satupun blogger yang menulis reportase, padahal sedari tadi banyak yang tak lepas dari laptop dan koneksi internet mereka. Sebuah cara yang cerdas untuk mempromosikan kota Bekasi melalui para blogger karena blogger memang memiliki kekuatan yang dahsyat di dunia maya dan teknologi bukan lagi penghalang untuk menunjukkan kedahsyatan itu. Fasilitasi ini harus dibayar dengan publikasi — itu kesan saya pribadi — dan tak ada yang salah dengan itu. Sebuah kerjasama yang mutualis. Blogger mendapat kesempatan melakukan kegiatan yang bermanfaat dan sebagai gantinya Blogger harus mempromosikan kota Bekasi.

Saya tak tahu apakah ada dari para blogger yang menulis tentang ini. Tapi inilah kesan yang saya dapat. Bagaimanapun cara pemda Bekasi merangkul para blogger adalah hal yang sangat patut dicontoh, tapi setidaknya berilah kebebasan untuk tetap mandiri dalam mengelola acara hingga tak setiap hal yang berhubungan dengan pemerintah harus tunduk pada birokrasi yang tak perlu.

Satu hal yang saya kurang sependapat yang dapat saya catat dari sambutan Enda yang mengatakan -  ‘akhirnya rumah walikota jadi rumah rakyat’. Ada atau tidaknya acara untuk Blogger di sana, Rumah DINAS Walikota tetap rumah rakyat — bukan rumah walikota. Rumah DINAS Walikota dibiayai oleh rakyat, diambil dari uang pajak yang dibayarkan oleh rakyat, dan rakyat menyediakan itu bagi pemimpin yang dianggap pantas bagi rakyatnya. Jadi, rumah itu memang rumah rakyat, bukan rumah walikota :) *entahlah, saya terlalu tajam untuk membedakan mana asset negara mana asset pribadi karena pajak yang saya bayar harus benar-benar terasa manfaatnya bagi rakyat banyak. Jadi, soal pemilihan kata RUMAH DINAS dan RUMAH saja bisa memiliki arti yang mendalam bagi saya pribadi.

Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada panitia, Mbak Ajeng, Mas Eko, Bang Amril, Mbak Anggie, dan semua blogger yang telah hadir pada acara talk show kita. YOU DID A SUPER JOB! Juga tak lupa kepada Pemda dan Walikota Bekasi yang telah mendukung terselenggaranya pertemuan akbar para blogger seluruh Indonesia di tahun 2010 ini.

Perjuangan masih panjang, tetap semangat menulis di blog meski tak ada event apapun, dan bagilah ilmu sebanyak-banyaknya melalui blog dan tulisan-tulisan kita, tentu saja tetap dalam koridor etika dan tanpa melanggar hak-hak orang lain. Selamat berkarya dan Dirgahayu Kota Bekasi yang ke 13!

“Kejujuran dan kebebasan berekspresi dalam menulis tanpa melanggar hak orang lain — tak dapat dibeli — apalagi jika yang menulis adalah seorang Blogger. Pada dasarnya jiwa blogger adalah jiwa yg bebas — punya ‘senjata’ yang sangat dahsyat untuk menguasai dunia maya — dan tak ada mata uang manapun yang mampu ‘membeli’ bahkan untuk satu JIWA pun.”

~ by Risa on March 7, 2010.

29 Responses to “:: My Personal Corner of Sarasehan Blogger 2010 ::”

  1. Sehabis sholat maghrib aku ditodong mas Amril untuk jadi moderator acara talkshow dengan Mbak Risa.

    Tentu aku kaget dengan todongan mendadak dari panitia ini, karena beberapa hal :
    1. Aku punya jadwal acara lain dan aku membawa anakku LiLo klas IV SD yang harus pulang cepat.
    2. Aku tertantang dengan mimpiku untuk menjadi moderator talk show yang beda dengan talk show para blogger yang terkesan serius dan tidak nyambung kalau dipandu oleh seleb yang bukan blogger [kalau aku kan blogger yang seleb, hehehe...]
    3. Aku belum kenal mbak Risa dan mbak Risa juga pasti gak kenal aku, jadi sama-sama gak kenal, pasti canggung deh…

    Sayangnya aku ini anggota komunitas TDA, jadi jawaban yang pertama keluar pasti “SIAP!”, baru setelah itu mikir “Mau mbahas apa ya dengan seleb sekaliber mbak Risa?”

    “Nyari profil mbak Risa agak susah kalau pakai hape, jadi apa yang kutahu tentang mbak Risa ya?”

    Tiba-tiba mbak Ajeng sudah menarik tanganku dan mengenalkan aku pada mbak Risa,”ini sesepuh beblog”, kata mbak Ajeng.

    Aku langsung down, semuda ini dibilang sesepuh? Ya ampun jangan gitu deh mbak Ajeng…(apa kata mbak Irma kalau tahu aku sudah sepuh)

    Akhirnya acara berlangsung juga, ternyata mbak Risa sangat profesional. Seneng deh ngobrol dengan dia. Kayak botol ketemu tutupnya.

    Yang bikin surprise lagi, mbak Risa rupanya suka lihat-lihat blogku (apa dosaku ya belum pernah nengok blog ini?)

    Kok jadi panjang begini nih?

    Ntar tak tulis aja di blogku deh. http://ekoshp.com/

    Yang jelas itulah acara talkshow tengah malam yang sangat berkesan.

    nb.
    Enda kayaknya menyindir walikota agar kembali ke khitah, bahwa rumah walikota adalah rumah rakyat
    http://sosbud.kompasiana.com/2010/03/07/saat-rumah-walikota-menjadi-rumah-rakyat/

  2. Tulisan yang jujur dan tak perlu ditutupi, sayang saya gak bisa hadir karena terbaring lemas akibat demam hehehehe :-)
    salam kenal.

  3. Terimakasih mbak Risa,
    di belakang, kegaduhan panitia lebih heboh lagi. Semuanya bergolak. Gelisah. Teriakan-teriakan protes “Blogger koq Diatur…..” seperti halilinta…jleger..jleger..jleger!
    Cuman emang gak kedengaran ke depan.

    Dan, kita masih bisa bertahan. Berdoa semoga Allah memberikan kesabaran untuk kita semua. Termasuk mbak Risa dan Jane yang jadi tamu kami. Alhamdulillah…akhirnya happy ending. Sebuah ‘langkah menyalip di tikungan’ dari Mas Eko membuat kita menemukan ‘real moment’

    Da, apa yang mbak Risa jawab atas pertanyaan saya sangat berharga. Saya lupa melakukan personal branding. Saya menulis apa saja. Buku apa saja. see http://komarmikam.multiply.com/photos
    Tapi, memang lupa pada fokus dan personal branding. Ke depan mudah2an saya lebih berani mengambil langkah. Keluar jadi karyawan dan menjadi full time writer.

    sekali lagi, thanks banget atas kesabarannya menunggu hingga our real time datan. Thanksjuga atas inspirasinya…..

    -komar, jawarabekasi
    *yangnanya terakhirpakebajuitemagakmontoqnanyasoalmanagemenwriter

    • Of course I remember you, Bro! I always remember good questions from smart people! ;)

      Personal branding juga bisa dilakukan dengan membina hubungan baik dengan pers. Jika Komar memiliki teman2 yang kebetulan jurnalis, dengan hubungan baik pasti mereka siap membantu! ;)

      Terus berkarya, jangan pernah putus asa.

    • istilahnya kok ‘langkah menyalip di tikungan’?
      darimana tahunya kalau aku ini penggemar The Doctor?

      mentang-mentang Jawara Bekasi Utara terus boleh memberi istilah sesukanya ya?

      nggak deh mas…
      nggak salah…!:-)

      kabur…

  4. [...] Jadilah sebuah medan yang acak adul untuk pelaksanaan suatu talk show pada jam yang mendekati midnight. Akupun akhirnya menyebut acara mbak Risa ini sebagai acara midnight talkshow. Mbak Risa menuliskan peristiwa ini dengan sangat piawai di blognya. Sebuah tulisan jujur dan mengalir dari seorang blogger sejati yang sangat cerdas. [...]

  5. [...] Jadilah sebuah medan yang acak adul untuk pelaksanaan suatu talk show pada jam yang mendekati midnight. Akupun akhirnya menyebut acara mbak Risa ini sebagai acara midnight talkshow. Mbak Risa menuliskan peristiwa ini dengan sangat piawai di blognya. Sebuah tulisan jujur dan mengalir dari seorang blogger sejati yang sangat cerdas. [...]

  6. senang bisa ketemu blogger yang juga penulis buku….
    *ngiri mode on*

  7. [...] Jadilah sebuah medan yang acak adul untuk pelaksanaan suatu talk show pada jam yang mendekati midnight. Akupun akhirnya menyebut acara mbak Risa ini sebagai acara midnight talkshow. Mbak Risa menuliskan peristiwa ini dengan sangat piawai di blognya. Sebuah tulisan jujur dan mengalir dari seorang blogger sejati yang sangat cerdas. [...]

  8. Semua even 6-7 tertulis lengkap terabadikan di catatan saya, Mbak Ries hehhe

    Salam bloggers

  9. Eh ya saya lupa ngsih link hehehe
    http://benedikawidyatmoko.wordpress.com
    http://bentoelisan.blog.com

    Monggo, silakan mampir :)

  10. [...] thanks to sahabatku Risa Amrikasari yang telah dengan kesabaran menunggu acara talkshow yang diluar rencana. I know you well vie . .  [...]

  11. Membaca postingan ini, saya ucapkan SALUT untuk Mbak Risa yang tetap profesional untuk mengisi acara meskipun mungkin banyak waktu yang dikorbankannya diluar acara Amprokan.

    Saya, sebagai seorang pemula dalam dunia blogging, sebagai bagian dari Komunitas Blogger Bekasi, dan juga sebagai bagian dari birokrasi Pemerintahan Kota Bekasi, mengucapkan mohon maaf atas ketidaknyamanan akibat pemberlakuan birokrasi yang tak pandang bulu, termasuk Amprokan Blogger yang baru berlalu.

    Semoga, dimasa depan, Mbak Risa tidak kapok lagi datang ke Bekasi untuk berbagi pengalamamn lebih banyak dengan teman-teman blogger.

    Salam Blogger! :)

    • Dear Mas Choored (waduh beneran gak nih namanya? :)

      Terima kasih atas kunjungannya ke blog saya. Untuk BLOGGER tak pernah ada kata kapok, Mas! Blog dan menjadi Blogger sepertinya sudah kutukan manis yang harus saya terima! hahah…

      Salam dan sukses selalu juga buat anda! :)

      • Hehehe…benar koq Mbak Risa! (duuh jadi gugup deh nih, langsung direspon sama selebs blog sih) :P

        Aslinya sih chorid, yaitu salah satu bagian dari nama saya yg merupakan gabungan nama kedua orang tua, tapi biar terkesan gimana gtu, dibikinnya ‘choreed’ (Hlohhh!?? Koq jadi buka kartu yah!) :$

        Btw, kutukannya membawa berkah ya Mbak!? Syukur deh…

        Terima kasih atas doanya, semoga demikian halnya untuk Mbak!

  12. akhirnya, isa ketemu dengan mbka Risa, alhamdulilah..

  13. wah… lupa nge-link tulisan ini di tulisan saya…
    maap…maap…

  14. [...] paling menarik di malam itu adalah Talkshow bareng dua blogger cantik yang juga penulis buku… (bikin iriiii… tapi saya sok ngacung untuk sok bertanya, yang penting bisa deket dua [...]

  15. mau tanya mbak Risa! kalau blognya mbak Shalimar alamatnya mana ya???
    *clingak-clinguk*

    • Mas Andy, dulu blog-nya Jane ada di janesha.blogdetik.com – tapi sejak kasus dia yg baru2 ini, sepertinya dinon-aktifkan untuk menghindari adanya tulisan2 aneh dari pihak-pihak yg sedang berseteru. Kasihan Jane, dia baru saja recover dari masalah perebutan anaknya dgn mantan suaminya itu.

  16. waaaaaaaaahh keren banget mba rika tulisannya,,,,,membacanya seolah mengalir mengikuti cerita & terbawa ke setting lokasinya,,,,

    Salam kenal ya mba,,,,aku liat mba rika waktu di tempatnya pa walikota

  17. [...] Mas Eko Eshape, dimulailah acara “Midnight Talkshow” yang menghadirkan penulis Risa Amrikasari dan seorang artis juga blogger, Jane Shalimar. Dengan piawai Mas Eko membangkitkan minat dan gairah [...]

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.